DAKWAH KONTEMPORER

A.    Dakwah Kontemporer
Dakwah yang pada intinya menyeru kepada Allah, adalah kewajiban setiap muslim. Kesadaran ini penting ditanamkan pada setiap muslim. Allah SWT. berfirman dalam QS. an-Nahl ayat 125 :
اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِالْمَوْعِظَةِالْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗاِنَّ رَبِّكَ هُوَاَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَاَعْلَمُبِالْمُهْتَدِيْنَ
artinya “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S. An-Nahl 16:125)
Terkait dengan seruan untuk berdakwah, lahirlah istilah dakwah kontemporer saat ini. Yang mana Dakwah kontemporer adalah dakwah yang dilakukan dengan cara menggunakan tekhnologi modern yang sedang berkembang, misalnya televisi, radio, media cetak, internet, dan lain-lain. Dakwah kontemporer ini sangat cocok apabila dilakukan di lingkungan masyarakat kota atau masyarakat yang memiliki latar belakang pendidikan menengah ke atas. Teknis yang ada dan yang digunakan dalam dakwah kontemporer ini juga sangat berbeda dengan dakwah kultural. Jika dakwah kultural pada umumnya dilakukan dengan cara menyesuaikan budaya yang ada pada masyarakat setempat, sedangkan dakwah kontemporer dilakukan dengan cara mengikuti teknologi yang sedang berkembang pada saat ini. Persaingan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dewasa ini, khususnya dalam bidang periklanan adalah, merupakan tantangan bagi para da’i untuk segera berpindah dari kebiasaan dakwah kultural ke dakwah kontemporer. Dakwah kontemporer yang dimaksud adalah, dakwah yang menggunakan fasilitas teknologi modern.
Al-Qur’an yang selama ini banyak disampaikan dengan cara tradisional, maka harus segera dirubah cara penyampaiannya, yaitu dengan cara modern dengan menggunakan teknologi yang sesuai dengan tuntutan zaman. Al-Qur’an sudah saatnya harus disampaikan dengan menggunakan metode cepat dan tepat, yaitu dengan cara menggunakan fasilitas komputer. Munculnya teknologi di bidang komputer ini sebenarnya sangat membantu bagi para da’i dalam menyampaikan nilai-nilai Al-Qur’an dengan metode tematik.  Munculnya Holy Qur’an, Holy Hadits dan beberapa CD kitab kutubut-tis’a merupakan kemajuan yang luar biasa bagi umat Islam umumnya dan para da’i pada khususnya, untuk segera direalisasikan kepada pada umat yang selama ini, dalam menggali Al-Qur’an menggunakan metode tradisional.
Dakwah yang menggunakan fasilitas mimbar hanya akan di dengar sebatas yang hadir pada acara tersebut. Lain halnya dengan dakwah yang menggunakan fasilitas teknologi elektronik seperti televisi, internet dan teknologi modern lainnya, pasti akan lebih banyak manfaatnya.
Materi dakwah yang tepat untuk menghadapi masyarakat modern ini adalah materi kajian yang bersifat tematik. Artinya Islam harus di kaji dengan cara mengambil tema-tema tertentu yang sesuai dengan tuntutan zaman. Sedangkan fasilitas yang tepat adalah dengan menggunakan media cetak dan elektronik. Kenapa demikian ? Karena dengan menggunakan media cetak dan elektronik hasilnya akan lebih banyak serta jangkauannya lebih luas.

B.     Problematika Dakwah Kontemporer
Sebenarnya dakwah merupakan kewajiban dan tugas setiap individu. Hanya dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi di lapangan. Jadi pada dasarnya setiap muslim wajib melaksanakan dakwah Islamiyah, karena merupakan tugas ‘ubudiyah dan bukti keikhlasan kepada Allah SWT. Penyampaian dakwah Islamiyah haruslah disempurnakan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga cahaya hidayah Allah SWT tidak terputus sepanjang masa. Para rasul dan nabi adalah tokoh – tokoh dakwah yang paling terkemuka dalam sejarah umat manusia, karena mereka dibekali wahyu dan tuntunan yang sempurna. Dibanding mereka, kita memang belum apa-apa. Akan tetapi sebagai da’i dan muballigh, kita wajib bersyukur karena telah memilih jalan yang benar, yakni bergabung bersama barisan para rasul dan nabi dalam menjalankan misi risalah Islamiyah. Konsekuensi dari pilihan itu kita harus senantiasa berusaha mengikuti jejak para nabi dan rasul dalam menggerakkan dakwah amar ma‘ruf nahi munkar, dalam kondisi dan situasi bagaimanapun. Persoalan yang kita hadapi sekarang adalah tantangan dakwah yang semakin hebat, baik yang bersifat internal maupun eksternal.
Tantangan itu muncul dalam berbagai bentuk kegiatan masyarakat modern, seperti perilaku dalam mendapatkan hiburan, kepariwisataan dan seni dalam arti luas, yang semakin membuka peluang munculnya kerawanan-kerawanan moral dan etika. Kerawanan moral dan etik itu muncul semakin transparan dalam bentuk kemaksiatan karena disokong oleh kemajuan alat-alat teknologi informasi mutakhir seperti siaran televisi, keping-keping VCD, jaringan Internet, dan sebagainya. Kemaksiatan itu senantiasa mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas, seperti maraknya perjudian, minum-minuman keras, dan tindakan kriminal,  serta menjamurnya tempat-tempat hiburan, siang atau malam, yang semua itu diawali dengan penjualan dan pendangkalan budaya moral dan rasa malu. Hal yang terakhir ini semakin buruk dan mencemaskan perkembangannya karena hampir-hampir tidak ada lagi batas antara kota dan desa, semuanya telah terkontaminasi dalam eforia kebebasan yang tak kenal batas. Ledakan-ledakan informasi dan kemajuan teknologi dalam berbagai bidang itu tidak boleh kita biarkan lewat begitu saja. Kita harus berusaha mencegah dan mengantisipasi dengan memperkuat benteng pertahanan aqidah yang berpadukan ilmu dan teknologi. Tidak sedikit korban yang berjatuhan yang membuat kemuliaan Islam semakin terancam dan masa depan generasi muda semakin suram. Apabila kita tetap lengah dan terbuai oleh kemewahan hidup dengan berbagai fasilitasnya, ketika itu pula secara perlahan kita meninggalkan petunjuk-petunjuk Allah yang sangat diperlukan bagi hati nurani setiap kita.
Di samping itu kelemahan dan ketertinggalan umat Islam dalam meng-akses informasi dari waktu ke waktu, pada gilirannya juga akan membuat langkah – langkah dakwah kita semakin tumpul  tak berdaya. Bertolak dari factor – factor tersebut, agar problematika dakwah tidak semakin kusut dan berlarut-larut, perlu segera dicarikan jalan keluar dari kemelut persoalan yang dihadapi itu. Agar dakwah Islam di era informasi sekarang tetap relevan, efektif, dan produktif, ada beberapa pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.
Pertama, perlu ada pengkaderan yang serius untuk memproduksi juru-juru dakwah dengan pembagian kerja yang rapi. Ilmu tabligh belaka tidak cukup untuk mendukung proses dakwah, melainkan diperlukan pula berbagai penguasaan dalam ilmu-ilmu teknologi informasi yang paling mutakhir. Kedua, proses dakwah tidak boleh lagi terbatas pada dakwah bil-lisan, tapi harus diperluas dengan dakwah bil-hal, bil-kitaabah (lewat tulisan), bil-hikmah (dalam arti politik) biliqtishadiyah (ekonomi), dan sebagainya. Ketiga, media massa cetak dan terutama media elektronik harus dipikirkan sekarang  juga. Media elektronik yang dapat menjadi wahana atau sarana dakwah perlu dimiliki oleh umat Islam. Bila udara Indonesia di masa depan dipenuhi oleh pesan-pesan agama lain dan sepi dari pesan-pesan Islami, maka sudah tentu keadaan seperti ini tidak menguntungkan bagi peningkatan dakwah Islam di tanah air. Dan merebut remaja Indonesia adalah tugas dakwah Islam jangka panjang. Anak – anak dan para remaja kita adalah aset yang tak ternilai. Mereka wajib kita selamatkan dari pengikisan aqidah yang terjadi akibat invasi nilai – nilai non islami ke dalam jantung berbagai komunitas Islam di Indonesia. Bila anak-anak dan remaja kita memiliki benteng tangguh dalam era globalisasi dan informasi sekarang ini, insya Allah masa depan dakwah kita akan tetap ceria.
Jika kita lihat dari beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, dapat diprediksi bahwa misi dan tantangan dakwah tidaklah pernah akan semakin ringan, melainkan akan semakin berat dan hebat bahkan semakin kompleks dan melelehkan. Inilah problematika dakwah kita masa kini.
Oleh sebab itu semuanya harus diatur kembali dengan manajemen dakwah yang profesional dan dihendel oleh tenaga-tenaga berdedikasi tinggi, mau berkorban dan ikhlas beramal. Mengingat potensi umat Islam yang potensial masih sangat terbatas, sementara kita harus mengakomodir segenap permasalahan dan tantangan yang muncul, maka ada baiknya kita coba memilih dan memilah mana yang tepat untuk diberikan skala prioritas dalam penanganannya, sehingga dana, tenaga, dan fikiran dapat lebih terarah, efektif, dan produktif dalam penggunaanya.

C.    Media Dakwah Kontemporer
Seorang da’i atau juru dakwah, dalam menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia tidak akan lepas dari sarana atau media. Karena di era modern ini dakwah tidak hanya cukup di sampaikan melalui lisan tanpa melalui bantuan alat-alat komunikasi modern, seperti radio, televisi, film, VCD dan lain-lain. Kata-kata yang di ucapkan seorang da’i sangatlah terbatas oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, kepandaian untuk memilih media atau sarana yang tepat merupakan salah satu unsur keberhasilan dakwah.
Hamzah Ya’qub membagi sarana dakwah menjadi lima macam, yaitu: lisan, tulisan, audio, visual, dan akhlak. Dari lima macam pembagian tersebut, secara umum dapat dipersempit menjadi tiga media, yaitu:
  1. Spoken words, media dakwah yang berbentuk ucapan atau bunyi yang di tangkap dengan indra telinga, seperti radio, telepon, dan lain-lain
  2. Printed writings, berbentuk tulisan, gambar, lukisan dan sebagainya yang dapat di tangkap dengan mata.
  3. The Audio visual, berbentuk gambar hidup yang dapat didengar sekaligus dilihat, seperti televisi, video, film dan sebagainya.

Dilihat dari segi sifatnya, media dapat digolongkan menjadi dua kategori: media dakwaah tradisional dan media dakwah modern. Media dakwah tradisional berupa berbagai macam seni dan pertunjukan tradisional, dipentaskan secara umum terutama hiburan yang bersifat komulatif. Sedangkan media modern di istilahkan dengan media elektronik yaitu media yang dihasilkan dari tekhnologi seperti televisi, radio, pers, internet dan sebagainya.
Sementara masyarakat sekarang ini adalah masyarakat plural yang berkembang dengan berbagai kebutuhan yang praktis, sehingga kecanggihan tekhnologi tidak dapat dinafikan dapat membuka sekat dan menghilangkan batas ruang dan waktu. Memilih dan menggunakan media yang tepat sudah menjadi keharusan dan tuntunan zaman apabila menginginkan tujuan dakwah untuk memengaruhi, bisa tercapai. Dengan demikian, media sebagai sarana dakwah yang merupakan suatu wasilah, dakwah haruslah sesuai dengan situasi dan kondisi pada masyarakat kontemporer.
Dakwah melalui VCD merupakan suatu model atau sarana dakwah yang baru, dan manfaat yang di petik dari dakwah model tersebut tidaklah sedikit dan sangat efektif manfaatnya, seperti contoh VCD Harun Hahya Series dimana karya-karya beliau sarat manfaat, menjadi best seller di berbagai negara. VCD yang berisi ilmu-ilmu yang diulas secara ilmiah dengan gambar-gambar yang menakjubakan, asal-usul kejadian manusia, teori Darwin, yang menyebabkan tidak sedikit orang-orang eropa yang masyarakatnya lebih banyak non muslim tersentak dan akhirnya mereka masuk Islam. Begitupun dengan Arimatea, salah satu model dakwahnya adalah dengan menggunakan serta memanfaatkan VCD sebagai sarana dakwahnya, dengan debat-debat ilmiyah yang mencerahkan.




Sumber :
Abdul Basit, Wacana Dakwah Kontemporer , Purwokerto: stainpress, 2006.
Ahmad Anas, Paradigma Dakwah Kontemporer, WaliSongo Press IAIN Walisongo,Semarang, 2006

Komentar

Postingan Populer